sejak aku dilahirkan, rasanya aku selalu merepotkan orang lain.. orang tuaku, keluargaku, teman-temanku, dan pacarku tentunya..
Masa sekolah, aku merepotkan keluargaku..
Masa kuliah, masih tetap merepotkan mereka,,, ditambah lagi hidup di solo sungguh dimanjakan,, sepeda motor ada, uang habis? asal ada 5.000 rupiah bisa pulang dan minta lagi, atau dengan 2000 rupiah bisa kerumah tante dewi dan om fajar.. Hmm.. sungguh menyenangkan bukan?
Hidupku tak pernah benar-benar kesulitan,
Masuk smp, gampang..
Masuk sma, dari 360 siswa yang diterima, aku masih rangkin 80 besar dan berhasil masuk akselerasi..
Masuk UNS, waktu ujian 2 jam cuma efektif 30 menit pertama, setelah itu aku tidur dan jeng-jeng aku ketrima..
baik smp, sma, maupun kuliah, aku tidak menjalaninya di sembarang tempat, tapi di tempat yang terbaik di kotaku..
Dan masa-masa itu kulalui dengan easy going, tak pernah terpikirkan sekalipun tujuanku kemana, aku hanya mengikuti arus, mengalir begitu saja...
tak ada beban tak ada asa..
hanya berjalan di jalan bebas halangan..
Pertama kali aku benar-benar berjuang,
ketika ujian masuk STAN,
kenapa aku benar-benar berjuang?
karena aku ingin mandiri..
Saat itu ibu hanya mengijinkan aku kuliah di UNS atau STAN...
UNS karena dekat dengan rumah dan STAN karena masa depan terjamin..
aku memilih STAN bukan karena prospeknya, tapi tempatnya..
STAN ada di Jakarta dan aku berharap aku bisa hidup mandiri disana,,
Tapi semakin besar perjuanganku,
Semakin berat pula halanganku..
2x aku mencoba ujian masuk STAN,
2x pula aku belajar mati-matian
dan 2x pula aku gagal..
yah, pertama kali aku berusaha dan aku gagal...
Setelah itu aku menyerah, pasrah..
tapi bukan berarti aku tak melakukan apa-apa..
Ibu sudah berjanji, jika kelak aku bekerja aku boleh bekerja di belahan dunia manapun..
Tapi rasa sayangku pada Ibu tak mengijinkanku tuk menjadi kekhawatiran beliau..
Jadi, aku memilih Pekanbaru..
Kota dimana banyak keluargaku berada..
Kota dimana memungkinkan aku pergi tanpa membuat keluarga khawatir...
Dan kota itu pula yang menjadi pilihan Adina Winanda Putra untuk bekerja
bukan karena dia cinta kota ini, bahkan aku yakin dia benci sangat dengan kota ini
bukan karena keluarganya ada disini.. karena kenyataannya dia sebatang kara disini..
melainkan karena di sinilah satu-satunya kota yang kupilih untuk menjadikan diriku Annisa Rahma Filard sepenuhnyaaa..
Bukan Annisa Rahma Filard putri dari Sutarno dan Titik, bukan pula Annisa Rahma Filard cucu dari Marwan..
Dan disinilah aku sekarang..
Berjuang lagi untuk yang kedua kalinya dalam hidupku..
Aku memang tidak sendiri disini..
Ada Oma..
Ada Opa..
Ada tante..
Ada Om..
Ada Papi..
tapi bagiku, aku ingin berjuang sendiri..
Seperti saat aku berjuang masuk STAN,
kali ini pun aku akan berjuang sendiri..
Sayangnya,
sudah 3 bulan aku disini..
sudah 3 bulan aku merepotkan Oma dan Opa..
namun belum ada hasil apa-apa...
Identitas belum jadi..
status masih sama..
Pengangguran,,,
Rikuh sebenarnya..
terlalu lama aku merepotkan oma dan opa,
tapi apa dengan ini aku harus menyerah seperti sebelumnya?
menyerah pada nasib dan keadaan?
Haruskah??
Hatiku mulai bimbang..
keputusan mana yang harus kuambil?
Keputusan yang akan mempengaruhi hidupku?
Tetap disinikah?
Atau pulang ke pangkuan ibu?
Aku butuh waktu untuk memikirkannya..
dan selama waktu itu...
aku akan sangat merepotkan Oma dan Opa..
Maafin nisa..
karena belum bisa membalas jasa-jasa oma dan opa..
Tapi nisa janji kelak akan membalasnya..
Terima kasih Oma dan Opa sudah menampung nisa...
Gomawo... Kamsa Hamida..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar